Kamis, 20 Oktober 2011

Tempat kerja sarana tingkatkan taqwa

Setiap pagi dikantor hampir selalu ada sesuatu yang berbeda yang dapat menjadi hikmah dan inspirasi, dan itu dirasakan oleh karyawan. yaaah..
Untuk memantaince kinerja karyawan sudah biasa dilakukan di pagi hari sebelum melakukan aktifitas kerja kami berkumpul untuk melakukan inspirasi pagi. aktifitas ini seperti apel pagi yang biasa dilakukan di kantor2. dengan kata inspirasi pagi harapannya aktifitas yang biasanya disebut apel tersebut mampu menjadi inspirasi bagi karyawan. dalam inspirasi pagi tersebut di lakukan ritual tilawah, pembacaan hadist, saling memberi support motivasi, penyampaian hasil kerja atau kadang sekedar berbagi hikmah cerita keseharian. Meski hanya 30 menit adanya kebersamaan dan canda tawa seluruh karyawan selalu membawa nuansa semangat untuk menjalani aktifitas ditempat kerja.
Setiap hari seluruh karyawan di biasakan untuk shalat dhuha, (agar rizkinya dimudahkan dan berkah) dilanjutkan dengan tilawah Al-Quran, selain itu malam hari di anjurkan  membiasakan shalat malam (tahajud).  
Sangat ditekankan untuk seluruh karyawan, seperti kami dilembaga sosial sekalipun harus senantiasa memiliki kedekatan hubungan dengan Alloh, kalau bahasa kami memiliki ruhiyah yang baik. apalagi di garda depan layanan yang langsung berhubungan dengan customer baik layanan medis, non medis maupun pengantaran ambulance. karena saya yakin dengan seseorang yang memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan nya secara otomatis baik pula keseluruhan hidupnya. dalam hal ini konteks nya dalam memberikan layanan untuk kaum dhuafa.
layanan yang diberikan akan terpancar dari ketulusan hati untuk menolong dan beribadah kepada Alloh.
doakan kami untuk senantiasa istiqomah memberi layanan yang terbaik bagi ummat.

Untuk seluruh sobat pejuang RSI Jogja semoga Alloh semakin mentautkan hati kita dalam bingkai ukhuwah dan senantiasa memberikan kemudahan dan keberkahan dalam setiap aktifitas, selamat berjuang !!

Rabu, 12 Oktober 2011

Tips tidur sehat dan islami

Bagi anda yang sering mengalami keluhan setelah tidur, jangan-jangan ada yang kurang sesuai dengan cara tidur yang sehat. berikut tips tidur sehat dan islami yang dapat di coba 

 1.Tidur Terbaik
Tidur terbaik adalah tidur yang dimulai dengan posisi miring ke kanan. Tujuannya adalah agar makanan dapat masuk ke dalam lambung dengan sempurna. Hal ini dikarenakan posisi lambung yang berada agak ke samping kiri. Kemudian padanya dianjurkan untuk mengubah posisi ke kiri untuk mempercepat proses pencernaan. Baru kemudian tidur dilanjutkan dengan posisi miring ke kanan kembali. Sebagai peringatan, jangan terlalu sering tidur dalam posisi miring ke kiri karena hal itu dapat membahayakan organ hati yang berada di sisi kiri dekat dengan lambung. Pada saat itu organ-organ tubuh akan mengarah pada hati dan beresiko mengalirkan bahan berbahaya ke dalamnya.

Ada yang menyatakan bahwa hikmah tidur dengan posisi miring ke kanan adalah agar orang yang melakukannya tidak terlalu lelap dalam tidurnya, karena posisi hati/jantung di dalam tubuhnya agak miring ke kiri. Jadi jika seseorang tidur dengan posisi miring ke kanan, maka jantungnya akan terdorong dari tempatnya di sebelah kiri. Hal itu akan mencegah orang yang bersangkutan tidur terlalu lama dan terlalu lelap.

Posisi tidur Nabi saw setelah miring kesebelah kanan Kemudian, beliau berbalik bertumpu sedikit pada sisi kiri, supaya dengan begitu proses pencernaan lebih cepat karena condongnya lambung di atas hati. Kemudian beliau kembali tidur bertumpu pada sisi kanan lagi, agar makanan segera larut dari lambung; jadi posisi permulaan dan posisi terakhir tidur bertumpu pada sisi kanan.

Selasa, 11 Oktober 2011

Negara Berkembang andalkan SKM dalam program kesehatan


Konsep hidup sehat H.L.Blum sampai saat ini masih relevan untuk diterapkan. Kondisi sehat secara holistik bukan saja kondisi sehat secara fisik melainkan juga spiritual dan sosial dalam bermasyarakat. Untuk menciptakan kondisi sehat seperti ini diperlukan suatu keharmonisan dalam menjaga kesehatan tubuh. H.L Blum menjelaskan ada empat faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Keempat faktor tersebut merupakan faktor determinan timbulnya masalah kesehatan.

Keempat faktor tersebut terdiri dari faktor perilaku, faktor lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya), faktor pelayanan kesehatan (jenis cakupan dan kualitasnya) dan faktor genetik (keturunan). Keempat faktor tersebut saling berinteraksi yang mempengaruhi kesehatan perorangan dan derajat kesehatan masyarakat. Diantara faktor tersebut faktor perilaku manusia merupakan faktor determinan yang paling besar dan paling sulit ditanggulangi, disusul dengan faktor lingkungan. Hal ini disebabkan karena faktor perilaku yang lebih dominan dibandingkan dengan faktor lingkungan karena lingkungan hidup manusia juga sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat.

Di zaman semakin maju seperti sekarang ini maka cara pandang kita terhadap kesehatan juga mengalami perubahan. Apabila dahulu kita mempergunakan paradigma sakit yaitu kesehatan hanya dipandang sebagai upaya menyembuhkan orang yang sakit dimana terjalin hubungan dokter dengan pasien (dokter dan pasien). Namun sekarang konsep yang dipakai adalah paradigma sehat, dimana upaya kesehatan dipandang sebagai suatu tindakan untuk menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan individu ataupun masyarakat (SKM dan masyarakat).

Dengan demikian konsep paradigma sehat H.L. Blum memandang pola hidup sehat seseorang secara holistik dan komprehensif. Masyarakat yang sehat tidak dilihat dari sudut pandang tindakan penyembuhan penyakit melainkan upaya yang berkesinambungan dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Peranan Sarjana Kesehatan Masyarakat dalam hal ini memegang kendali dominan dibandingkan peranan dokter. Sebab hubungan dokter dengan pasien hanya sebatas individu dengan individu tidak secara langsung menyentuh masyarakat luas. Ditambah lagi kompetensi dalam memanagement program lebih dikuasai lulusan SKM sehingga dalam perkembangannya SKM menjadi ujung tombak program kesehatan di negara-negara maju.

Untuk negara berkembang seperti Indonesia justru, paradigma sakit yang digunakan. Dimana kebijakan pemerintah berorientasi pada penyembuhan pasien sehingga terlihat jelas peranan dokter, perawat dan bidan sebagai tenaga medis dan paramedis mendominasi. Padahal upaya semacam itu sudah lama ditinggalkan karena secara financial justru merugikan Negara. 

Anggaran APBN untuk pendanaan kesehatan diIndonesiasemakin tinggi dan sebagian besar digunakan untuk upaya pengobatan seperti pembelian obat, sarana kesehatan dan pembangunan gedung. Seharusnya untuk meningkatan derajat kesehatan kita harus memberi perhatian besar pada akar masalahnya dan selanjutnya melakukan upaya pencegahannya. Untuk itulah maka upaya kesehatan harus fokus pada upaya preventif (pencegahan) bukannya curative (pengobatan).

Namun yang terjadi anggaran untuk meningkatkan derajat kesehatan melalui program promosi dan preventif dikurangi secara signifikan. Akibat yang ditimbulkan adalah banyaknya masyarakat yang kekurangan gizi, biaya obat untuk puskesmas meningkat, pencemaran lingkungan tidak terkendali dan penyelewengan anggaran penggunaan askeskin. Dampak sampingan yang terjadi tersebut dapat timbul karena kebijakan yang kurang progresif.

Indikator Rumah Sehat

Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan terkait erat dengan penyakit berbasis lingkungan, dimana kecenderungannya semakin meningkat akhir-akhir ini. Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama kematian di Indonesia. Bahkan pada kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit berbasis lingkungan menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi dan balita. Keadaan tersebut mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi kesehatan lingkungan (Data Susenas 2001).

Rumah sehat merupakan salah satu sarana untuk mencapai derajat kesehatan yang optimum. Untuk memperoleh rumah yang sehat ditentukan oleh tersedianya sarana sanitasi perumahan. Sanitasi rumah adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap struktur fisik dimana orang menggunakannya untuk tempat tinggal berlindung yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Rumah juga merupakan salah satu bangunan tempat tinggal yang harus memenuhi kriteria kenyamanan, keamanan dan kesehatan guna mendukung penghuninya agar dapat bekerja dengan produktif. 

Salah satu Instrument Penilaian Rumah Sehat mengacu pada Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat Depkes RI Tahun 2007, dengan pembagian bobot penilaian meliputi bobot komponen rumah, bobot sarana sanitasi, serta bobot pada perilaku penghuni. Sesuai dengan pedoman ini, secara umum rumah dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut : 
  1. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah, adanya ruangan khusus untuk istirahat (ruang tidur), bagi masing-maing penghuni
  2. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup
  3. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena pengaruh luar dan dalam rumah, antara lain persyaratan garis sempadan jalan, konstruksi bangunan rumah, bahaya kebakaran dan kecelakaan di dalam rumah;
Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan perhatian terhadap beberapa aspek yang sangat berpengaruh, antara lain:
  1. Sirkulasi udara yang baik.
  2. Penerangan yang cukup.
  3. Air bersih terpenuhi.
  4. Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan pencemaran.
  5. Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta tidak terpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air kotor maupun udara kotor. Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut: 
1. Bahan Bangunan
Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan, antara lain sebagai berikut :
  • Debu Total tidak lebih dari 150 µg m3
  • Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/4jam
  • Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg 
  • Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme patogen. 
2. Komponen dan penataan ruang rumah Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis sebagai berikut: 
a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan 
b. Dinding · Di ruang tidur, ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi untuk pengaturan sirkulasi udara · Di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah dibersihkan 
c. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan 
d. Bumbung rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus dilengkapi dengan penangkal petir 
e. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi dan ruang bermain anak. 
f. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap. 

3. Pencahayaan Pencahayaan alam atau buatan langsung atau tidak langsung dapat menerangi seluruh bagian ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan. 

4. Kualitas Udara Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut : 
a. Suhu udara nyaman berkisar antara l8°C sampai 30°C 
b. Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70% 
c. Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam 
d. Pertukaran udara 
e. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8jam 
f. Konsentrasi gas formaldehide tidak melebihi 120 mg/m3 

5. Ventilasi Luas penghawaan atau ventilasi a1amiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai. 

6. Binatang penular penyakit Tidak ada tikus bersarang di rumah. 

7. Air 
a. Tersedia air bersih dengan kapasitas minmal 60 lt/hari/orang 
b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan air minum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 

8. Tersediannya sarana penyimpanan makanan yang aman dan hygiene. 
9. Limbah 
a. Limbah cair berasal dari rumah, tidak mencemari sumber air, tidak menimbulkan bau dan tidak mencemari permukaan tanah. 
b. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, tidak menyebabkan pencemaran terhadap permukaan tanah dan air tanah. 

10. Kepadatan hunian ruang tidur Luas ruang tidur minimal 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun. 

Masalah perumahan telah diatur dalam Undang-Undang pemerintahan tentang perumahan dan pemukiman No.4/l992 bab III pasal 5 ayat l yang berbunyi “Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan atau menikmati dan atau memiliki rumah yang layak dan lingkungan yang sehat, aman , serasi, dan teratur” Bila dikaji lebih lanjut maka sudah sewajarnya seluruh lapisan masyarakat menempati rumah yang sehat dan layak huni. 
Rumah tidak cukup hanya sebagai tempat tinggal dan berlindung dari panas cuaca dan hujan, Rumah harus mempunyai fungsi sebagai : 

1. Mencegah terjadinya penyakit 
2. Mencegah terjadinya kecelakaan 
3. Aman dan nyaman bagi penghuninya 
4. Penurunan ketegangan jiwa dan sosial


Sumber: Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 829 Menkes SK/VII/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan Ditjen P2MPLM, Petunjuk Tentang Perumahan dan Lingkungan Serta Penggunaan Kartu Rumah, 1995.

Butuh Ambulance Gratis ..Ya Ambulance Rumah Zakat

Sabtu, 01 Oktober 2011

Indikator Tahap Desa Siaga


Gambaran  Pengembangan  Desa  Siaga  dengan  Sistem  Kesiapsiagaan  dan  Penanggulangan
Bencana  Berbasis  Masyarakat  Sebagai  Dasar  Pengembangan Indikator Tahap Bina Desa Siaga :
 
1.     1. Forum masyarakat desa
2.     2. Pelayanan Kesehatan Dasar (Sarana Kesehatan dengan Tenaga Kesehatan)
3.     3. UKBM yang berkembang
4.     4. Dibina Puskesmas PONED
5.     5. Surveilans berbasis masyarakat
6.     6. Sistem Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana berbasis masyarakat
7.     7. Sistem Pembiayaan Berbasis Masyarakat
8.     8. Lingkungan Sehat
9.     9. Masyarakat ber-PHBS 
      (to be continue)...

Zona Inspirasi Kompas TV